Doa Niat Puasa Ganti, Segera Qadha Puasamu Sebelum Terlambat!

LEBAK, iNewsLebak.id - Menjelang Bulan Suci Ramadan yang penuh rahmat dan keberkahan, umat Muslim di seluruh dunia akan segera bersukacita menyambutnya. Oleh karena itu, doa niat puasa ganti menjadi sangat penting, terutama bagi perempuan yang masih memiliki utang puasa dari tahun sebelumnya. Mereka sangat dianjurkan untuk segera menunaikan qadha puasa sebelum Ramadan tiba."
Melansir dari laman NU Online, Hukum mengganti puasa sendiri dalam Islam adalah wajib, sebagaimana yang telah disampaikan Allah SWT melalui Firmannya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yang bebunyi:
Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.
Lantas, bagaimana tata cara serta doa niat Puasa ganti yang benar, sesuai dengan anjuran Nabi? simak ulasan berikut!
Berikut merupakan pelafalan doa niat puasa ganti Ramadan
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Atau kamu bisa melafalkan dengan bahasa Indonesia, sebagaimana artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
Ilustrasi: Pixabay
Setelah membaca doa niat puasa ganti pada malam hari, seseorang yang akan menqadha puasanya disunnahkan untuk Sahur pada esok hari.
Sama seperti orang yang berpuasa pada umumnya, bagi seseorang yang menjalankan puasa Qadha ini diwajibkan untuk menjauhkan hal-hal yang dapat membatalkan dan mengurangi pahala puasa. Serta dianjurkan memperbanyak amalan seperti membaca Al-Qur’an dan Berdzikir.
Saat sudah memasuki waktu berbuka, seorang Muslim dianjurkan menyegerakan untuk membatalkan puasanya, serta mengucap doa berbuka dengan bacaan berikut sebagaimana dikutip dari laman mui.or.id.
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah.
Artinya: “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.”
Doa berbuka puasa ini bersumber dari riwayat Abu Daud, dari sahabat Ibnu Umar r.a, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca doa ini ketika berbuka puasa.
Dalam versi lain, Anda juga dapat melafalkan doa sebagaimana berikut.
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Allahummalakasumtu wabika aamantu wa’alarizqika afthortu birohmatikaya ar-hamarrahimin.
Artinya: “Ya Allah Dzat yang Maha Pemurah dari segalanya, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki dan kasih sayang-Mu aku berbuka.”
Meskipun demikian, isi ucapan doa sangat umum dan tidak terbatas. Kita bisa berdoa dengan kata-kata yang lebih sederhana atau yang lebih sesuai dengan apa yang kita rasakan, asalkan doa tersebut mengandung makna kebaikan.
Ada beberapa situasi yang membolehkan seseorang untuk membatalkan puasanya, seperti saat sakit, sedang mengandung (perempuan), ataupun berpergian jauh (Musafir). Jika, mengalami hal tersebut dan dirasa begitu menyulitkan untuk melanjutkan puasanya karena kondisi tersebut, maka seorang Muslim diperbolehkan untuk membatalkan puasanya.
Orang yang telah meninggalkan puasa karena alasan yang jelas tersebut, maka harus mengganti hari puasanya sebanyak ia meninggalkan puasa di Bulan Ramadan. Masih mengutip sumber yang sama, mengganti puasa atau Qadha puasa ini harus segera dilakukan sebelum datang Ramadan berikutnya.
Lalu, apa yang harus dilakukan jika terlambat membayar utang puasa tersebut?
Jika Ramadan tiba sementara seseorang masih memiliki utang puasa tahun lalu, ia wajib berpuasa untuk mengganti utang tersebut. Selain itu, ia juga harus membayar Fidyah sebesar satu mud (sekitar tujuh ons) bahan makanan pokok, seperti beras, untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.
Editor : Imam Rachmawan