Mengapa Beberapa Negara Melarang Perayaan Valentine? Ini Penjelasannya

Salsabilla Putri Arlinda
Ilustrasi negara yang melarang perayaan Valentine. (Foto: Pixabay)

LEBAK, iNewsLebak.id - Setiap 14 Februari, sebagian masyarakat dunia merayakan Hari Valentine sebagai momen untuk menunjukkan kasih sayang. Di banyak negara, Valentine sudah menjadi bagian dari budaya populer yang dirayakan secara terbuka.

Namun, tidak semua negara memandang Valentine dengan cara yang sama. Di beberapa wilayah, perayaan ini justru dibatasi, bahkan dilarang. 

Alasannya beragam, mulai dari pertimbangan agama, nilai budaya lokal, hingga kekhawatiran terhadap pengaruh budaya Barat yang dinilai tidak sejalan dengan norma setempat.

Negara yang Melarang atau Membatasi Perayaan Valentine

1. Pakistan

Pakistan juga termasuk negara yang memberlakukan pembatasan terhadap perayaan Valentine. Melalui putusan Pengadilan Tinggi Islamabad, perayaan Hari Valentine di ruang publik pernah dilarang.

Selain itu, media massa dilarang mempromosikan atau menayangkan konten yang berkaitan dengan Valentine. Kebijakan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran sebagian pihak bahwa perayaan tersebut tidak sesuai dengan norma sosial dan agama yang berlaku di negara tersebut.

2. Iran

Di Iran, pemerintah secara tegas melarang produksi, distribusi, serta promosi barang-barang yang berkaitan dengan Valentine. Produk seperti kartu ucapan bergambar hati, boneka, hingga suvenir bertema kasih sayang tidak diperbolehkan dipasarkan secara terbuka.

Kebijakan ini didasari pandangan bahwa Valentine dianggap sebagai tradisi yang berasal dari Barat dan tidak selaras dengan nilai budaya serta ajaran Islam yang dianut negara tersebut. Otoritas setempat berupaya membatasi penyebaran simbol-simbol Valentine agar tidak menjadi tren luas di masyarakat.

3. Uzbekistan

Di Uzbekistan, pemerintah tidak secara langsung mengeluarkan undang-undang nasional yang melarang Valentine. Namun, sejak beberapa tahun lalu, otoritas pendidikan mengeluarkan arahan agar perayaan tersebut tidak dilakukan di lingkungan sekolah.

Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga nilai budaya lokal dan mendorong generasi muda untuk lebih menghargai tradisi nasional dibanding mengadopsi perayaan yang dianggap berasal dari luar.

4. Malaysia

Berbeda dengan negara lain, Malaysia tidak memiliki undang-undang resmi yang melarang Valentine. Meski demikian, otoritas keagamaan Islam di negara tersebut pernah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa umat Muslim tidak dianjurkan merayakan Hari Valentine.

Pemerintah dan lembaga terkait juga beberapa kali mengadakan kampanye yang mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak terpengaruh perayaan yang dinilai berpotensi membawa dampak negatif terhadap moral.

Negara Lain dengan Pembatasan Sosial

Selain negara-negara di atas, ada pula beberapa wilayah di mana Valentine tidak dirayakan secara umum karena norma sosial dan agama yang kuat.

  • Afghanistan, perayaan Valentine jarang terlihat karena masyarakatnya cenderung konservatif
  • Somalia dan Mauritania, Hari Valentine bukan bagian dari tradisi masyarakat setempat.
  • Brunei, perayaan secara terbuka dianggap bertentangan dengan hukum syariah yang berlaku.
  • Qatar, Valentine tidak populer dan jarang dirayakan secara publik.

Di negara-negara tersebut, perayaan Valentine tidak sepenuhnya menjadi budaya arus utama. Faktor agama dan nilai sosial berperan besar dalam menentukan bagaimana masyarakat memandang tanggal 14 Februari.

Editor : iNews Lebak

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network