Kenapa Awal Ramadan Bisa Berbeda? Ini Cara Muhammadiyah dan NU Menentukannya

Salsabilla Putri Arlinda
Ilustrasi cara penentuan awal ramadan Muhammadiyah dan NU. (Foto: Pixabay)

LEBAK, iNewsLebak.id - Menjelang Ramadan, perhatian publik biasanya kembali tertuju pada kepastian kapan puasa dimulai. Di Indonesia, penetapan awal bulan Hijriah memang tidak selalu berakhir pada tanggal yang sama. 

Awal Ramadan ditentukan berdasarkan posisi hilal, yaitu bulan sabit tipis yang muncul setelah fase bulan baru. Namun, cara memastikan kemunculan hilal tersebut bisa berbeda. Ada pendekatan yang bertumpu pada perhitungan astronomi, sementara pendekatan lain menunggu hasil pengamatan langsung di lapangan.

Dua organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, punya pendekatan yang berbeda dalam menentukan masuknya bulan Hijriah, termasuk Ramadan. Berikut penjelasannya. 

Cara Muhammadiyah Menentukan Awal Ramadan

Muhammadiyah saat ini menggunakan pendekatan yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). 

Pendekatan ini berbasis hisab atau perhitungan astronomi. Jadi, yang dilihat adalah data berapa derajat ketinggian bulan, berapa jarak sudutnya dengan matahari, dan apakah sudah memenuhi parameter tertentu.

Dalam sistem ini, jika di satu tempat di bumi hilal sudah memenuhi syarat tertentu sebelum batas waktu universal, maka tanggal baru diberlakukan secara global. Tidak harus menunggu terlihat di setiap negara.

Untuk Ramadan 1447 H atau 2026 M, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026 berdasarkan parameter yang telah terpenuhi secara global, meskipun di Indonesia posisi hilal saat itu belum memenuhi kriteria pemerintah.

Bagi Muhammadiyah, pendekatan ini merupakan upaya menyatukan sistem kalender Islam secara internasional.

NU dengan Metode Pengamatan Hilal

Sementara itu, Nahdlatul Ulama dalam menentukan awal Ramadan tetap berakar pada tradisi rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap bulan sabit muda di ufuk barat. Bagi NU, melihat hilal secara nyata memiliki posisi penting dalam penetapan waktu ibadah.

Menjelang akhir bulan Syakban, para perukyat (pengamat hilal) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia memantau langit setelah matahari terbenam. Hasil pengamatan ini kemudian dilaporkan ke pemerintah dan akan dibahas dalam Sidang Isbat.

Pada malam Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama pada 17 Februari 2026, hasil laporan hisab dan rukyat menunjukkan bahwa hilal belum berhasil terlihat di sejumlah titik pemantauan. Dengan pertimbangan itu, pemerintah resmi menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Keputusan ini kemudian disampaikan dalam forum Sidang Isbat sebagai pengesahan bersama antara pemerintah dan perwakilan ormas Islam, termasuk NU. Bagi NU, proses rukyatul hilal dan Sidang Isbat merupakan praktik yang menghormati tradisi pengamatan langsung sekaligus menghargai keputusan bersama dalam konteks keindonesiaan.

Pendekatan ini menunjukkan bagaimana pengamatan fisik terhadap fenomena alam tetap dijadikan rujukan utama oleh NU dalam menentukan awal bulan, meskipun perhitungan astronomi modern juga menjadi bagian pertimbangan.

 

Editor : iNews Lebak

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network