Akses Dipasang Portal, Pedagang Kopi Stadion Maulana Yusuf Mengaku Makin Sepi
SERANG, iNewsLebak.id - Sejumlah pedagang kopi di kawasan belakang Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, mengaku mengalami penurunan omzet dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini terjadi setelah penataan ulang kawasan kuliner membuat arus pengunjung lebih terkonsentrasi di klaster depan.
Pada Rabu (11/2), pedagang kopi berinisial MN menyampaikan bahwa pendapatan hariannya tidak lagi seperti sebelumnya. Ia menyebut perubahan konsep kawasan berdampak langsung pada jumlah pembeli yang datang ke lapaknya.
“Biasanya sehari bisa tembus Rp500 ribu. Tapi sejak klaster take away dibagusin terus, pedagang yang di belakang jadi nggak kebagian pembeli. Orang-orang semuanya ke take away,” ujarnya kepada iNews Lebak.
Menurut MN, situasi tersebut diperparah dengan adanya pemasangan portal di akses jalan sekitar kawasan. Kebijakan itu dinilai membuat pengunjung harus memutar lebih jauh untuk mencapai area belakang stadion.
“Sekarang jalannya dipasang portal, katanya supaya motor nggak masuk. Tapi kalau ditutup begini, jangankan motor, pengunjung yang jalan kaki aja harus muter dulu buat masuk,” tambahnya.
Sebelumnya, ratusan pedagang kaki lima dan warung kopi telah direlokasi ke lokasi baru yang disediakan Pemerintah Kota Serang di belakang Stadion Maulana Yusuf. Relokasi itu dilakukan sebagai bagian dari penataan kawasan agar lebih tertib dan terorganisir.
Namun dalam pelaksanaannya, sejumlah pedagang menilai konsep kawasan kuliner belum sepenuhnya matang. Mereka berharap ada evaluasi dari Pemerintah Kota Serang dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) terkait pembagian klaster dan pola pengunjung.
“Konsep Wisata Kuliner Stadion ini seharusnya dimatangkan. Kalau klaster tengah memang khusus take away, sebaiknya tidak ada tempat duduk dine-in, supaya pedagang kopi di belakang juga kebagian rezeki. Dulu konsepnya jelas, beli makanan di take away, minum dan nongkrongnya di warung kopi. Sekarang konsepnya jadi tidak jelas,” ungkapnya.
Selain berdampak pada omzet pedagang kopi, kondisi tersebut juga dinilai memengaruhi kenyamanan kawasan. Banyaknya tempat duduk di klaster tengah disebut membuat area terlihat kurang tertata.
Para pedagang berharap adanya dialog terbuka antara pemerintah daerah dan perwakilan paguyuban untuk mencari solusi bersama. Evaluasi konsep dinilai penting agar penataan kawasan tetap berjalan tanpa merugikan pelaku usaha kecil.
Editor : Editor iNews Lebak