Makna Hujan di Tahun Baru Imlek, Pertanda Baik atau Sekadar Musim?

Salsabilla Putri Arlinda
Ilustrasi dekorasi imlek. (Foto: Pixabay)

LEBAK, iNewsLebak.id - Saat perayaan Tahun Baru Imlek tiba, sebagian orang berharap langit cerah agar bisa berkunjung ke rumah keluarga tanpa hambatan. Namun bagi sebagian masyarakat Tionghoa, turunnya hujan justru bukan pertanda buruk. Sebaliknya, hujan di hari pertama tahun baru sering dimaknai sebagai simbol keberuntungan dan awal yang membawa berkah.

Di sejumlah daerah di Indonesia, hujan yang turun bertepatan dengan Imlek bukanlah hal yang jarang terjadi. Fenomena ini kemudian berkembang menjadi bagian dari kepercayaan dan harapan yang menyertai perayaan tersebut.

Air sebagai Simbol Rezeki dan Kehidupan

Dalam filosofi Tionghoa, unsur air memiliki makna yang kuat. Air dipandang sebagai lambang kehidupan, kesuburan, dan aliran rezeki. Dalam simbolisme budaya serta bahasa Mandarin, air kerap diasosiasikan dengan kekayaan yang terus mengalir.

Karena itu, ketika hujan turun saat Imlek, banyak yang menafsirkannya sebagai tanda bahwa tahun yang baru akan dipenuhi peluang dan keberuntungan. Hujan dianggap membawa energi positif, terutama bagi sektor pertanian, perdagangan, maupun usaha keluarga.

Keyakinan ini bukan semata tentang cuaca, melainkan tentang harapan. Di awal tahun, masyarakat ingin memulai langkah dengan optimisme, dan hujan menjadi simbol alam yang menguatkan harapan tersebut.

Bukan Sekadar Kepercayaan, Ada Penjelasan Ilmiah

Di balik makna simbolik tersebut, ada pula penjelasan ilmiah yang cukup sederhana. Perayaan Tahun Baru Imlek mengikuti kalender lunar-solar, sehingga biasanya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.

Pada periode itu, Indonesia umumnya berada dalam puncak musim hujan. Pola angin Monsun Asia membawa massa udara basah dari kawasan Asia dan Samudera Pasifik menuju wilayah Indonesia. Inilah yang menyebabkan curah hujan cenderung tinggi pada awal tahun.

Artinya, hujan saat Imlek bukanlah fenomena khusus yang dipicu oleh perayaan itu sendiri. Secara klimatologis, peluang turunnya hujan memang sedang besar pada rentang waktu tersebut.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tidak ada hubungan ilmiah antara perayaan Imlek dengan turunnya hujan. Cuaca semata dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan pola angin musiman.

Januari hingga Februari dikenal sebagai fase puncak musim hujan di banyak wilayah Indonesia. Tekanan udara tinggi di Benua Asia dan tekanan rendah di Benua Australia menciptakan aliran angin baratan yang membawa uap air dalam jumlah besar.

Dengan kondisi tersebut, potensi hujan memang meningkat, terlepas dari ada atau tidaknya perayaan tertentu. Sistem kalender Imlek yang hampir selalu jatuh di awal tahun membuat keduanya kerap bertepatan.

Apakah Hanya Terjadi di Indonesia

Menariknya, tidak semua negara mengalami fenomena serupa. Di China dan sejumlah negara Asia Timur lainnya, Imlek sering berlangsung saat musim dingin. Bahkan di beberapa wilayah, salju lebih mungkin turun dibanding hujan.

Indonesia yang beriklim tropis memiliki pola musim berbeda. Hujan pada awal tahun adalah hal yang umum, sehingga wajar jika Imlek di Tanah Air kerap ditemani rintik atau bahkan hujan deras.

Meski demikian, perbedaan kondisi geografis tidak menghilangkan makna yang diyakini masyarakat. Bagi komunitas Tionghoa di Indonesia, hujan saat Imlek tetap dipandang sebagai simbol keberkahan.

 

Editor : iNews Lebak

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network