"Rata-rata naik sekitar Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per pak. Namun, yang paling besar naiknya itu plastik jenis PP yang tadinya kita jual Rp 32.000 per kilogram, sekarang naik jadi Rp 48.000 per kilogram. Pokoknya hampir semua plastik naik," ucapnya.
Kenaikan harga tersebut mulai berdampak langsung pada pelaku UMKM. Ayu (36), pedagang makanan di Kampung Cemplang, mengaku harus menyesuaikan harga jual produknya karena biaya kemasan yang ikut meningkat.
"Saya menjual seblak dan gorengan. Karena plastik naik, harga seblak ya terpaksa saya naikkan Rp 1.000, dari harga Rp 10.000 jadi Rp 11.000," ujarnya.
Ia menyebut, tidak semua pelanggan langsung menerima kenaikan harga tersebut, meski sebagian akhirnya memahami kondisi yang terjadi.
"Pasti ada yang komplain, tetapi kita jelaskan saja kalau harga bahan memang sedang naik," jelasnya.
Selain menaikkan harga, beberapa pelaku usaha juga mulai mencari cara lain agar tetap bertahan, seperti menyesuaikan porsi produk agar tetap terjangkau bagi konsumen.
"Harapannya harga bisa turun lagi. Karena kalau plastik naik, nanti bisa berdampak ke harga yang lain juga," tambahnya.
Kondisi ini menunjukkan tekanan biaya produksi yang semakin besar bagi pelaku UMKM, sekaligus menggambarkan bagaimana gangguan rantai pasok global mulai berdampak hingga ke tingkat usaha kecil di daerah.
Editor : iNews Lebak
Artikel Terkait
