LEBAK, iNewsLebak.id - Luapan Sungai Ciujung kembali menimbulkan bencana di wilayah Kabupaten Lebak setelah debit air meningkat akibat hujan berintensitas tinggi di kawasan hulu. Peristiwa tersebut memicu longsor di Kampung Gagambiran, Desa Muharadua, Kecamatan Cikulur, pada Sabtu, (31/1/2026).
Berdasarkan data di lapangan, sebanyak 14 rumah warga yang berada di bantaran Sungai Ciujung terdampak longsor. Kerusakan terjadi akibat erosi tebing sungai yang terus tergerus arus deras hingga tanah amblas.
Sebagian besar kerusakan dialami pada bagian dapur rumah yang posisinya berdekatan dengan bibir sungai. Dari total rumah terdampak, empat unit dilaporkan mengalami kerusakan parah dan 10 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Salah seorang warga terdampak, Muslimah, mengatakan kondisi longsor di lokasi tersebut sebenarnya telah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Namun, dampak terparah baru dirasakan dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya debit Sungai Ciujung.
“Kalau longsor sebenarnya sudah ada dari lima tahun lalu, tapi yang paling parah itu sekarang. Air sungai lagi besar, kalau meluap pasti ngikis tanah,” ujar Muslimah kepada wartawan Senin, (2/2/2026).
Ia menjelaskan, arus deras sungai kerap membawa material tanah dan pepohonan saat air meluap. Kondisi itu menyebabkan longsor terus berulang dan jaraknya semakin dekat dengan rumah warga.
“Kalau airnya surut, tanahnya ikut turun lagi. Jadi longsor terus,” katanya.
Meski rumahnya mengalami kerusakan parah, Muslimah mengaku masih bertahan karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal lain. Ia menyebut rasa khawatir selalu muncul setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Takut pasti takut, tapi mau pindah ke mana? Tidak ada tempat,” bebernya.
Selama ini, warga telah beberapa kali mengajukan usulan penanganan permanen kepada pemerintah. Namun bantuan yang diterima masih terbatas pada logistik kebutuhan pokok.
“Bantuan cuma beras saja. Itu juga habis dua atau tiga hari. Kami maunya ada solusi yang aman, entah dibangun atau dipindahkan,” ujarnya.
Muslimah berharap pemerintah dapat memberikan solusi konkret berupa relokasi ke lokasi yang lebih aman. Menurutnya, tinggal di bantaran sungai sudah tidak lagi memungkinkan.
“Harapan saya ya dipindahkan ke tempat yang aman. Jangan di sini lagi, karena rawan longsor,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Muharadua, Jumhadi, mengatakan kondisi longsor di Kampung Gagambiran saat ini sangat mengkhawatirkan. Bahkan, satu rumah dilaporkan mengalami kerusakan struktural serius.
“Yang paling parah itu satu rumah atas nama Ibu Ana, sebagian rumahnya sudah turun ke bawah,” ujarnya.
Dia menuturkan, langkah yang bisa dilakukan pemerintah desa sejauh ini masih sebatas imbauan kewaspadaan kepada warga. Imbauan tersebut disampaikan secara langsung saat cuaca ekstrem.
“Kami selalu memberikan imbauan melalui RT/RW, turun ke lapangan bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas,” katanya.
Namun hingga kini, rencana relokasi belum dapat direalisasikan karena keterbatasan lahan dan anggaran. Pemerintah desa masih mengandalkan pendekatan door to door untuk meminimalkan risiko korban.
Editor : Imam Rachmawan
Artikel Terkait
