get app
inews
Aa Text
Read Next : Tegas! Asisten Pribadi Musa Weliansyah: Tidak Ada Penghinaan Terhadap Massa Aksi

Anggota DPRD Banten Cekcok dengan Massa Aksi, Ketua DPD HIMMA Lebak: Mencoreng Marwah

Jum'at, 16 Januari 2026 | 14:49 WIB
header img
Agus Jubaedi, Ketua DPD HIMMA Kabupaten Lebak / foto: istimewa

LEBAK, iNewsLebak.id - Insiden cekcok antara massa aksi dengan seorang anggota DPRD Provinsi Banten kembali memperlihatkan wajah buram relasi antara wakil rakyat dan masyarakat yang diperjuangkannya. 

Anggota DPRD Provinsi Banten, Musa Weliansyah, yang juga diketahui menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II secara tiba-tiba mendatangi massa aksi yang tengah berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Banten, menuntut perbaikan jalan rusak di Kampung Nambo akibat aktivitas kendaraan berat (jayamix) dalam pelaksanaan program bangun jalan desa sejahtera (Bang Andra).

Alih-alih menunjukkan sikap sebagai pelayan publik, Wakil Ketua komisi II DPRD Provinsi Banten tersebut justru berbicara dengan nada tinggi, menunjuk-nunjuk wajah rakyat, bahkan melontarkan kata-kata ente boloon (kamu goblok) kepada masyarakat yang sedang memperjuangkan hak dasarnya atas infrastruktur yang layak.

Tindakan tersebut menuai kecaman keras dari berbagai pihak, salah satunya dari Ketua DPD HIMMA Kabupaten Lebak, Agus Jubaedi. Agus menilai sikap Musa bukan hanya tidak beretika, tetapi juga mencederai prinsip dasar demokrasi dan fungsi representasi DPRD.

"Ini bukan hanya cekcok biasa. Ini adalah potret arogansi wakil rakyat. Ketika rakyat menuntut hak atas jalan yang rusak akibat satu kebijakan provinsi, yang mereka terima justru makian dari wakil rakyat," tegas Agus Jubaedi. Jum'at (16/1/2026).

Agus menambahkan, pernyataan dan gestur Musa sangat tidak pantas, terlebih mengingat posisinya sebagai pimpinan komisi yang seharusnya menjadi penengah dan penyambung aspirasi masyarakat, bukan justru memperuncing konflik.

"Ucapan ‘ente boloon’ bukan hanya merendahkan individu, tapi merendahkan martabat rakyat. Jika wakil rakyat sudah kehilangan etika berbicara kepada konstituennya, maka yang rusak bukan hanya jalan, tapi juga moral politiknya," lanjutnya.

Agus juga menyinggung konteks nasional, dimana sebelumnya publik dihebohkan dengan berbagai pernyataan kontroversial elit politik pusat yang viral dan menuai kecaman luas. Namun ironisnya, kejadian serupa kini justru terjadi di tingkat daerah.

"Kalau di nasional kita mengenal kasus Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio dan lainnya yang ramai dikritik publik, hari ini di Banten kita menyaksikan sendiri bagaimana seorang wakil rakyat juga memperlihatkan wajah kekuasaan yang anti kritik dan anti rakyat," ujarnya.

Menurut Agus, tindakan Musa mencoreng citra DPRD Provinsi Banten secara kelembagaan, sekaligus memperkuat persepsi publik bahwa sebagian elit politik telah menjauh dari nilai-nilai kerakyatan.

"Ini mencoreng citra DPRD Provinsi Banten, rakyat bukan musuh. Rakyat bukan obyek makian. Jika ada anggota dewan yang merasa lebih tinggi dari rakyat, maka ia telah lupa dari mana mandat kekuasaan itu berasal," tutup Agus Jubaedi.

Editor : U Suryana

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut