Dari Larangan hingga Dirayakan, Ini Kisah Perjalanan Imlek di Indonesia
Pembatasan di Masa Orde Baru
Kondisi tersebut berubah ketika Indonesia memasuki masa pemerintahan Orde Baru. Melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, pemerintah membatasi pelaksanaan perayaan Imlek di ruang publik. Perayaan hanya diperbolehkan dilakukan dalam lingkungan keluarga dan tidak mencolok.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya asimilasi yang diterapkan pemerintah pada masa itu. Pembatasan tersebut tidak hanya berdampak pada perayaan Imlek, tetapi juga memengaruhi berbagai bentuk ekspresi budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia. Selama bertahun-tahun, Imlek tetap dirayakan, namun dalam suasana yang tertutup dan terbatas.
Era Reformasi dan Kembalinya Imlek ke Ruang Publik
Perubahan mulai terasa setelah berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Pada masa Presiden BJ Habibie, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 yang menghapus berbagai kebijakan diskriminatif terhadap komunitas Tionghoa. Langkah ini membuka jalan bagi pemulihan hak-hak budaya yang sempat dibatasi.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, sehingga perayaan Imlek kembali dapat dilakukan secara terbuka. Kebijakan ini menandai babak baru dalam penghormatan terhadap kebebasan berekspresi budaya di Indonesia.
Pengakuan terhadap Imlek kemudian diperkuat oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002, Tahun Baru Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional, sekaligus menegaskan posisinya sebagai bagian dari kalender nasional.
Imlek sebagai Simbol Kebhinekaan Saat Ini
Kini, perayaan Imlek di Indonesia berlangsung dengan semarak dan terbuka di berbagai daerah. Lampion merah menghiasi pusat-pusat kota, pertunjukan barongsai digelar di ruang publik, dan tradisi berbagi angpao menjadi simbol kegembiraan dalam menyambut tahun baru.
Lebih dari sekadar perayaan budaya, Imlek kini mencerminkan wajah Indonesia yang majemuk. Partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang dalam perayaan ini menunjukkan bahwa Imlek telah menjadi bagian dari identitas kebhinekaan bangsa. Dari tradisi yang pernah dibatasi, Imlek kini hadir sebagai simbol toleransi, kebersamaan, dan penghormatan terhadap keberagaman di Indonesia.
Editor : Imam Rachmawan