Ia menjelaskan hujan yang kembali turun tanpa henti membuat kondisi tanah semakin labil. Dampaknya, sejumlah rumah kini berada dalam ancaman longsor susulan.
“Tercatat ada tiga rumah yang masih terancam. Kondisi bangunannya sudah menunjukkan retakan, jadi kejadiannya memang bertahap,” ujarnya.
Pasca kejadian sebelumnya, pemerintah desa telah mengusulkan pembangunan bronjong ke Dinas PUPR Provinsi Banten. Namun hingga saat ini, penanganan permanen di lokasi rawan longsor tersebut belum terealisasi.
“Bronjong sangat dibutuhkan agar pergerakan tanah bisa ditahan. Jika dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan, permukiman warga berisiko habis tergerus longsor,” tutur Rafik.
Hingga kini tidak ada laporan korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Warga di sekitar lokasi longsor diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Editor : Imam Rachmawan
Artikel Terkait
