Enam Tahun Bertahan di Balik Terpal, Kisah Warga Lebakgedong yang Merindukan Tempat Pulang

Salsabilla Putri Arlinda
Kondisi hunian sementara korban banjir bandang 2020 di Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten. (Foto: Ist)

LEBAK, iNewsLebak.id - Enam tahun telah berlalu sejak banjir bandang melanda Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten. Namun bagi Cici (40) bersama suaminya, Raman, serta empat anak mereka, Cici masih bertahan hidup di hunian sementara (huntara) Kampung Cigobang, Desa Banjarsari. 

Tenda sederhana beralaskan tanah, berdinding terpal, dan beratapkan anyaman daun sagu menjadi tempat tinggal mereka sejak bencana pada 2020 lalu.

Banjir bandang bercampur lumpur kala itu merobohkan rumah Cici dan rumah warga lainnya. Setelah kejadian, para korban direlokasi ke huntara dengan janji pemerintah akan membangun hunian tetap (huntap). Huntara dimaksudkan sebagai tempat tinggal sementara. Namun hingga kini, janji hunian tetap itu belum juga terwujud.

“Sudah enam tahun kami tinggal di huntara. Pemerintah berjanji membangun hunian tetap, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan kapan itu direalisasikan,” ujar Cici, Minggu (18/1/2025).

Janji yang Tak Kunjung Terpenuhi

Menurut Cici, rencana pembangunan hunian tetap sudah disampaikan sejak masa kepemimpinan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya. Meski kepemimpinan daerah telah berganti, harapan warga untuk menempati rumah layak masih belum menemui titik terang.

Ia pun membandingkan kondisi mereka dengan korban banjir bandang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang telah menempati hunian tetap lengkap dengan akses jalan dan air bersih. Padahal, bencana di Bogor dan Lebakgedong terjadi pada waktu yang sama.

Sementara itu, kondisi huntara yang telah ditempati selama enam tahun kian memprihatinkan. Atap dan dinding tenda mulai rusak dimakan usia. Saat hujan turun, air kerap merembes masuk, membuat anak-anak tidur dalam kondisi kedinginan.

“Suami saya bekerja sebagai buruh serabutan, tidak mampu memperbaiki tenda yang kondisinya sudah rapuh. Jangankan memperbaiki tenda, untuk kehidupan sehari-hari saja kami kekurangan,” tuturnya.

Menunggu dengan Sisa Kesabaran

Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, Cici dan warga lainnya masih menyimpan harapan akan realisasi relokasi ke hunian tetap. Hingga kini, janji tersebut belum juga disertai kepastian waktu pembangunan.

“Kami hanya ingin kepastian, bukan janji-janji saja seperti orang tua ke anaknya yang bilang mau belikan mainan tapi tidak pernah dibelikan,” ujarnya.

Menurut Cici, enam tahun merupakan waktu yang panjang bagi para korban banjir bandang untuk bertahan di hunian sementara. Selama masa itu, warga harus bersabar dalam penantian, meski harapan akan hunian tetap masih ada.

“Di balik dinding huntara yang rapuh ini, kami terus menunggu satu hal yang sederhana. Bisa pulang ke rumah yang layak, aman, dan benar-benar bisa disebut rumah,” ungkapnya.

Ia berharap janji pembangunan hunian tetap yang telah disampaikan sebelumnya dapat segera direalisasikan. 

“Kami butuh kepastian. Kami sudah bosan hidup di tenda huntara dengan segala kepalsuan omongan dari pemerintah,” tutupnya.

Editor : Imam Rachmawan

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network