Kakao Anjlok dari Rp45.000 ke Rp20.000, Petani Lebak Tahan Penjualan
LEBAK, iNewsLebak.id - Harga kakao di Kabupaten Lebak anjlok dalam beberapa hari terakhir hingga membuat petani menunda penjualan hasil panen. Di tingkat pengepul, harga turun dari Rp45.000 per kilogram menjadi Rp20.000 per kilogram.
Sejumlah petani di Kecamatan Warunggunung memilih menyimpan biji kakao kering sambil menunggu harga kembali membaik. Mereka menilai penurunan harga terlalu tajam dan tidak sebanding dengan biaya produksi.
Salah seorang petani, Didi, mengatakan saat ini para petani memilih bertahan dan tidak menjual hasil panennya.
“Kami sementara ini memilih tidak menjual kakao karena harganya sedang anjlok. Dari Rp45.000 sekarang tinggal Rp20.000 per kilogram,” kata Didi, Minggu (22/2/2026).
Ia menjelaskan, penurunan harga terjadi di tingkat pengepul yang menjadi tempat utama petani memasarkan hasil panen.
“Turunnya sudah beberapa hari ini di pengepul. Jadi kami lebih baik simpan dulu daripada rugi,” ujarnya.
Didi menyebut, kondisi saat ini berbanding jauh dengan tahun sebelumnya.
“Waktu 2024 harga sempat sampai Rp135.000 per kilo. Sekarang turun jauh sekali, tentu terasa sekali bagi kami,” ucapnya.
Saat ini, ia masih menyimpan sekitar 500 kilogram kakao kering di rumahnya sambil menunggu perkembangan harga.
“Saya punya sekitar 500 kilo. Untuk sementara disimpan dulu sambil menunggu harga naik lagi,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ujang, petani kakao lainnya di Lebak. Ia belum menjual hasil panen kakao karena harga terus melemah di tingkat pengepul.
“Saya juga punya sekitar 250 kilo, tapi belum dijual. Harga di pengepul turun terus, jadi kami tahan dulu,” kata Ujang.
Menurutnya, penurunan harga dipengaruhi musim panen di sejumlah daerah sentra kakao yang membuat pasokan melimpah di pasaran.
“Sekarang ini kan lagi musim panen di beberapa daerah, jadi pasokan banyak dan harga turun,” katanya.
Sementara itu, pengepul hasil bumi di Rangkasbitung, Bambang, membenarkan adanya penurunan harga dalam beberapa hari terakhir. Ia menyebut tetap menerima pasokan dari petani meski jumlahnya tidak banyak.
“Kami masih menampung kakao kering dari Lebak, Serang, dan Pandeglang, tapi volumenya tidak banyak karena petani banyak yang menahan penjualan,” ucap Bambang.
Editor : iNews Lebak