get app
inews
Aa Text
Read Next : BRIMA Resmi Dilantik, Mathla'ul Anwar Perkuat Peran Riset dan Inovasi untuk Kemajuan Bangsa

Regenerasi sebagai Investasi: Masa Depan Mathla’ul Anwar dan Indonesia Emas 2045

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:36 WIB
header img
Aceng Murtado, Alumni Mathla'ul Anwar Cikeusik Desa, sejak MI hingga MA, dan Pengurus DPD Himpunan Mahasiswa Mathla'ul Anwar Lebak / foto: istimewa

Peran Nasional, Mitra Kritis dan Konstruktif

Seperti yang telah kita ketahui, di tingkat nasional, organisasi keagamaan memiliki posisi strategis sebagai mitra negara sekaligus kekuatan moral masyarakat. Ia tidak hanya menjadi pelaksana dakwah, Pendidikan dan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai kontrol sosial yang konstruktif. Dalam tradisi Islam, fungsi ini memiliki dasar normatif yang kuat melalui konsep amar ma’ruf nahi munkar. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imran: 104:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ayat tersebut menegaskan pentingnya kehadiran kelompok terorganisir yang secara sadar dan sistematis menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan Mathlau’ul Anwar harus lebih berani dalam menyuarakannya. Dalam konteks kebangsaan modern, perintah tersebut dapat kita maknai sebagai kewajiban moral kita untuk terlibat dalam advokasi kebijakan publik, pendidikan politik umat, penguatan etika sosial, serta pelayanan sosial bagi masyarakat luas, tentunya tanpa memandang ras, suku, bahkan agama sekalipun. Kritis dalam arti berani menyampaikan masukan, koreksi, dan bahkan kritik tajam terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan sosial. Konstruktif dalam arti tetap menjaga stabilitas, persatuan, serta menawarkan solusi nyata atas persoalan bangsa.

Teori sirkulasi elite yang dikemukakan oleh Vilfredo Pareto, harus menjadi pijakan kita bahwa setiap organisasi atau sistem sosial akan mengalami pergantian elite, mau tidak mau itu harus dan pasti. Maka, jika regenerasi kepemimpinan berjalan sehat (normal), organisasi akan tetap dinamis dan adaptif. Tapi sebaliknya, tanpa pembaruan elite, organisasi cenderung stagnan, eksklusif, dan kehilangan daya respons terhadap perubahan zaman.

Editor : U Suryana

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut