Regenerasi sebagai Investasi: Masa Depan Mathla’ul Anwar dan Indonesia Emas 2045
Karena itu, kepemimpinan di tubuh Mathla’ul Anwar, terutama Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar ke depan tidak cukup hanya memiliki kapasitas administratif atau kemampuan mengelola organisasi secara teknis. Pemimpin harus memiliki visi kebangsaan yang luas, bisa memahami dinamika sosial-politik nasional, serta yang terpenting bisa dan mampu menjembatani aspirasi umat dengan kebijakan negara. Pemimpin juga, harus memiliki jejaring lintas organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh agama, akademisi, dan pemangku kebijakan.
Dengan kombinasi landasan teologis, kematangan sosiologis, dan kepemimpinan yang visioner, Mathla’ul Anwar (MA) dapat tampil sebagai kekuatan moral bangsa Indonesia. Ia hadir sebagai mitra negara yang berintegritas, berpikir jernih, dan berorientasi pada maslahatil ummah (butir 9 prinsip Mathla’ul Anwar).
Regenerasi, Investasi Menuju Indonesia Emas 2045
Mathla’ul Anwar memiliki badan otonom bernama Himpunan Mahasiswa Mathla'ul Anwar (HIMMA), bukan hanya itu saja, nama-nama badan otonom yang lainnya seperti Generasi Muda Mathla’ul Anwar (Gema MA), Ikatan Pelajar Mathla’ul Anwar (IPMA), dan Muslimat Mathla’ul Anwar (Musma) juga adalah regenarasi Mathla’ul Anwar kedepan, dan itulah ruang kaderisasi yang paling strategis. Dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, investasi pada generasi muda merupakan fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai dokumen perencanaan nasional terkait bonus demografi.
Indonesia Emas 2045 bukanlah agenda yang jauh dan abstrak. Tahun 2045 hanya berjarak 19 tahun dari hari ini. Jika dihitung secara demografis, mereka yang akan berada pada usia produktif (sekitar 25–55 tahun) pada tahun 2045 adalah generasi yang saat ini berusia sekitar 6–36 tahun. Artinya, pelaku utama Indonesia Emas hari ini adalah anak-anak sekolah dasar, pelajar, mahasiswa, dan kader muda organisasi.
Dalam konteks Mathla’ul Anwar, ini adalah alarm sekaligus peluang. Generasi yang saat ini berada di IPMA, Gema MA, dan terutama HIMMA, merekalah yang akan menjadi pemimpin organisasi, pengambil kebijakan, akademisi, profesional, dan tokoh umat pada 2045 nanti.
Editor : U Suryana