Waspada! BMKG Prediksi Puncak Kemarau Agustus 2026 Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia
“Dari 699 zona musim di indonesia ada 144 zona musim atau 16,3 persen dari zona musim akan memasuki musim kemarau bulan April 2026 yang meliputi pesisir utara Jawa Barat, Jawa bagian Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian kecil Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Kalimantan Selatan, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan,” jelasnya
Ia mengatakan awal musim kemarau akan meluas ke sebagian Sumatera, Jawa, Bali, hingga Papua pada Mei 2026 atau sekitar 26,3 persen zona musim, dan terus bergerak ke sebagian besar Kalimantan serta Sulawesi pada Juni 2026 atau 23,3 persen zona musim.
Secara keseluruhan, awal kemarau tahun ini diprediksi maju atau lebih awal di 325 zona musim atau 46,5 persen wilayah Indonesia.
“Awal dari musim kemarau itu akan masuk maju untuk 325 zona musim atau 46,5 persen dari keseluruhan zona musim, sama dengan kondisi normalnya yaitu sekitar 173 zona musim atau 24,7 persen dari zona musim, dan mundur sebanyak 72 zona musim atau 10,3 persen dari keseluruhan zona musim,” katanya.
Ardhasena menambahkan, puncak musim kemarau akan terjadi di bulan Agustus 2026 sebanyak 429 zona musim atau 61,4 persen. Wilayah yang diprediksi, yaitu Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku, Maluku Utara, dan sebagian Pulau Papua.
Kepala BMKG menegaskan kembali pesan kunci bahwa sebagian besar zona musim di Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering dari biasanya serta datang lebih awal pada tahun 2026.
“Ini pesan kuncinya ya. Selain itu, musim kemarau tahun 2026 juga diprediksi datang lebih awal di sebagian besar wilayah,” tegasnya.
Informasi ini diharapkan menjadi landasan bagi berbagai sektor yang sensitif terhadap perubahan iklim, terutama pertanian, sumber daya air, dan kehutanan.
BMKG mengimbau adanya perencanaan yang matang dan tindakan nyata di lapangan guna menekan risiko kerugian akibat anomali iklim. Upaya mitigasi yang adaptif dinilai menjadi bagian krusial dalam menjaga stabilitas dan ketahanan nasional menghadapi musim kemarau ekstrem yang akan datang.
Editor : iNews Lebak