Ia menambahkan, anomali sensor tersebut telah terjadi sebelumnya. Namun, pada saat itu tidak sampai menyebabkan kecelakaan.
“Kali ini dampaknya besar, kendaraan di belakang tidak punya waktu reaksi. Saya berharap pihak produsen bertanggung jawab dan melakukan investigasi teknis yang transparan,” ucapnya.
Insiden ini memicu kekhawatiran terkait reliabilitas fitur keselamatan aktif seperti Autonomous Emergency Braking (AEB) atau Forward Collision-Avoidance Assist yang banyak dipasang pada kendaraan modern.
Pengereman mendadak tanpa eksternal sebab berpotensi menimbulkan risiko tabrakan beruntun akibat false activation sensor.
“Jika teknologi keselamatan justru menimbulkan bahaya, maka ada kegagalan mendasar yang harus diungkapkan.pemilik tidak boleh menjadi korban kesalahan sistem,” tambahnya.
Editor : Imam Rachmawan
Artikel Terkait
