Enam Tahun Bertahan di Balik Terpal, Kisah Warga Lebakgedong yang Merindukan Tempat Pulang
“Suami saya bekerja sebagai buruh serabutan, tidak mampu memperbaiki tenda yang kondisinya sudah rapuh. Jangankan memperbaiki tenda, untuk kehidupan sehari-hari saja kami kekurangan,” tuturnya.
Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, Cici dan warga lainnya masih menyimpan harapan akan realisasi relokasi ke hunian tetap. Hingga kini, janji tersebut belum juga disertai kepastian waktu pembangunan.
“Kami hanya ingin kepastian, bukan janji-janji saja seperti orang tua ke anaknya yang bilang mau belikan mainan tapi tidak pernah dibelikan,” ujarnya.
Menurut Cici, enam tahun merupakan waktu yang panjang bagi para korban banjir bandang untuk bertahan di hunian sementara. Selama masa itu, warga harus bersabar dalam penantian, meski harapan akan hunian tetap masih ada.
“Di balik dinding huntara yang rapuh ini, kami terus menunggu satu hal yang sederhana. Bisa pulang ke rumah yang layak, aman, dan benar-benar bisa disebut rumah,” ungkapnya.
Ia berharap janji pembangunan hunian tetap yang telah disampaikan sebelumnya dapat segera direalisasikan.
“Kami butuh kepastian. Kami sudah bosan hidup di tenda huntara dengan segala kepalsuan omongan dari pemerintah,” tutupnya.
Editor : Imam Rachmawan